Ruang lingkup menulis resensi,( kelas XI SMA, oleh Nur Setiyadi)
A. Menulis
Resensi Buku
Resensi
adalah ulasan atau penilaian terhadap sebuah buku atau film. Tujuannya adalah
memberikan atau menyampaikan informasi kepada para pembaca mengenai keunggulan
dan kelemahan buku atau film tersebut, serta kelayakan untuk dinikmati pembaca.
Buku atau
film yang diresensi tentunya yang baru diterbitkan atau baru dipasarkan. Secara
tidak langsung resensi berfungsi juga sebagai media promosi yang efektif. Oleh
karena itu, alangkah baiknya apabila resensi itu diakhiri dengan ajakan
(persuasif).
Unsur-unsur
resensi adalah judul resensi, identitas buku (judul buku, pengarang, dan data
publikasi), jenis buku, kepengarangan (latar belakang pengarang dan latar
belakang buku yang diresensi), ikhtisar cerita/ isi, persoalan yang terdapat
dalam buku, penilaian baik keunggulan maupun kelemahannya, dan ajakan.
Resensi berasal dari
bahasa latin yaitu kata kerja revidere atau resucere. Artinya melihat kembali,
menimbang, atau menilai. Meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian,
mengungkapkan kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku dengan maksud
memberikan informasi isi buku kepada masyarakat luas.
Istilah resensi dikenal juga dengan sebutan
timbangan buku, tinjauan buku, pembicaraan buku, dan bedah buku.Sebenarnya,
bidang garapan resensi bukan hanya buku. Bidang garapan resensi dapat
dikelompokan menjadi 3 bagian, yaitu (1) buku, baik fiksi maupun nonfiksi, (2)
pementasan seni, seperti film, sinetron, tari, drama, musik, atau kaset, (3)
pameran seni, baik seni lukis maupun seni patung.
Tujuan resensi
1.
Memberikan
informasi atau pemahaman tentang apa yang diungkapkan dalam sebuah buku.
2.
Memberikan
pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan.
3.
Mengajak
pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan problema yang muncul
dalam sebuah buku.
Bahasa resensi
Bahasa resensi biasanya
singkat, padat, dan tegas, menarik, mudah ditangkap, dan enak dibaca. Pemilihan
karakter bahasa disesuaikan dengan karakter pembaca yang akan menjadi sasaran.
Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan.
Misalnya, kalimat runtun, ejaanya benar dan tidak berpanjang lebar
(bertele-tele).
Langkah-langkah meresensi
Langkah-langkah meresensi
buku sebagai berikut :
1.
Penjajakan
atau pengenalan terhadap buku mulai dari tema buku, identitas penerbit, siapa
pengarang, dan golongan buku (ekonomi, pendidikan, bahasa dan lain-lain).
2.
Membaca
buku secara komprehendif, cermat dan teliti.
3.
Menandai
bagian-bagian buku yang dianggap khusus
atau penting.
4.
Membuat
sinopsis atau intisari buku.
5.
Menentukan
sikap dan menilai organisasi penulisan isi, bahasa, dan aspek teknis.
6.
Mengoreksi
dan merevisi hasil resensi.
Unsur-unsur resensi
Unsur-unsur yang diresensi
:
1.
Membuat
judul resensi menarik dan menjiwai tulisan.
2.
Menyusun
data buku (judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, tebal buku dan harga kalau
perlu)
3.
Membuat
pembukaan. Misalnya memperkenalkan pengarang dan karyanya, membadingkan dengan
buku sejenis, memaparkan sosok pengarang dn keunikan buku, merumuskan tema
buku, mengungkapkan kesan, mengajukan pertanyaan, dan membuka dialog.
4.
Tubuh
dan isi resensi antara lain: sinopsis, ulasan singkat, keunggulan dan kelamahan
buku, serta tinjauan bahasa.
5.
Penutup
resensi,bagian
penutup biasanya berisi buku tersebut penting untuk siapa dan mengapa.
Contoh resensi
buku
KISAH KEHIDUPAN MANUSIA
Judul : Belenggu
Pengarang : Armijn Pane
Penerbit : Dinan Rakyat
Tahun : 1938, Cetakan XVII 1995
Novel karya Armijn Pane tebal 150
halaman ini mempunyai sejarah yang menggemparkan. Cerita ini pernah di tolak
oleh balai pustaka, ramai di puji dan di cela, tetapi akhirnya tak urung
menjadi salah satu novel klasik modern indonesia yang harus di baca oleh orang
terpelajar indonesia.
Armijn Pane ialah seeorang
romantikus yang suka mengembara dalam jiwanya. Ia identik dengan zaman baru.
Hal ini mempengaruhi isi cerita ini sehingga pada waktu diberikan, belenggu di
anggap sesuatu yang baru. Belenggu memberri arah baru dalam kesustraan
indonesia, baru dalam ceritanya,gaya bahasanya,dan gaya/ cara mengarangnya.
Alur yang digunaka dallam novel ini
adalah alur campuran namun dominan menggunakan alur maju. Walaupun
demikian,dapat membawa para pembacanya menelusuri cerita demi cerita.
Cara pengarang menggambarkan
tokoh-tokoh dalam cerrita ini berlainan dengan cara yang biasa di pakai
pengarang lain. Tokoh utama pria, sukartono, adalaah seorang yang mau berkorban
demi orang lain dan ia pun seorang suami yang sabaar. Tokoh sumartini di
gambarkan sebagai seorang wanita modern yang mandiri dan memiliki ego yang
tinggi. Sedangkan rohayah di gambarkan sebagai sosok wanita yang lemah
lembut,penyayang dan penuh perhatian tetapi memiliki masa lalu yang suram.
Gaya bahasa yang digunakan dianggap
sebagai gaya yang baru dan berbeda. Armijn banyak menggunakan bahasa melayu dan
bahasa belanda yang membuat para pembaca tidak mengerti dan harus menerka
maksudnya. Dalam novel ini armijn pada meyelipkan ungkapan-ungkapan yang di
susun secara menarik sehingga memberihan suasana yang romantis.
Kisah dalam belenggu ini diawali
dari kehidupan perkawinan sukartono dan sumartini yang sudah tidak baik lagi.
Sukartono kecewa karena sikap tini yang berubah setelah menikah. Tini tidak
peduli akan kehidupan rumah tangganya. Suatu saat tono bertemu dengan nyonya
eni atau rohayah.dari wanita inilah tono mendapatkan perhatian,kasih sayang,
dan kehangatan yang tida di dapatkan dari istrinya walaupun demikian, tono
dihantui parasaan bersalah atas perselingkuhannya dengan rohayah, karena ia sebenarnya
masih mempunyai perasaan cinta dengan istrinya. Tetapi, hal ini tidak
menjadikan situasi kehidupan rumah tangganya semakin membaik karena dari
masing-masing pihak tidak ada yang berusaha untuk memperbaikinya.
Para para tokoh yang di lukiska dalam
tokoh ini hampir menyerupai karikatur karena terlalu berlebihan. Dalam
melukiskannya, armijn melukiskan pikiran dan semangatnya. Ganbaran armijn
terhadap tokoh tidak tegas dan konsekuen. Namun, bagaimanapun buku ini telah
membawa suatu kemajuan bagi sastra indonesia karena cara penyampaiannya
ceritanya yang unik. Tidak rugi bila kita mencoba untuk menbacanya.
Novel ini banyak mengandung amanat
yang sangat bermanfaat bagi pembacanya. Armijn mengajarkan kita untuk berbagi
dalam berkorban untuk orang lain.
Hal yang menarik dari cerita ini
adalah permainan perasaan pengarangnya yang memberikan suasana yang romantis.
Dalam novelnya armijn pandai menyelipkan pertanyaan yang terus tersirat dari
mulut sampai akhir cerita, “Baiklah memandang ke belakang,bergunakah zaman
dahulu,tidakkah lebih baik, kalau zaman dahulu itu di benamkan saja,dilupakan
sama sekali?”
Namun, dengan segala keindahan dan
kelebihannya, buku ini membuat pembacanya mendapat kesulitan dalam menangkap
maksud Armijn Pane, terutama karena banyaknya penggunaan bahasa melayu dan
bahasa belanda. Pemakaian ungkapan dan kiasan dalam kalimat membuat cerita ini
terasa berat. Meski demikian, cerita ini tetap memikat dan penuh dengan muatan
pesan yang dapat di renungkan dan di terjemahkan lebih dahulu.
Devonan
Candrawati,dkk.
Soal resensi buku
A. Soal uraian
1. Sebutkan
unsur-unsur yang ada pada resensi di atas dan berilah data-data pendukungnya
B. Soal pilihan ganda
1. Cermati penjelasan dalam teks berikut!
Marah Rusli dalam novel Sitti Nurbaya secara dasar merupakan
pemberontakan yang menyuarakan keinginan kaum muda dan serentak keinginan kaum
tua untuk tetap berada pada posisi status quo. Sebagai naskah yang
diterbitkan oleh badan penerbit kolonial, Marah Rusli memilih kiat memberi
porsi yang seimbang antara tujuan memenangkan kaum muda dan mempertahankan
kewibawaan kaum tua. Itulah sebabnya semua tokoh cerita dibiarkan meninggal
dunia karena usahanya yang netral untuk tidak memenangkan pihak mana pun. Pada
masa novel itu ditulis, perasaan nasionalisme yang belum menemukan wujud yang
nyata karena itu masih tersimpan rapi di dalam relung dada setiap pejuang
Indonesia. Ide-ide nasionalisme muncul di dalam cerita, sementara usaha
penumpasan kekuatan masyarakat yang militan juga diberi porsi yang cukup dengan
konsep ”seimbang” dan ”berimbang”
Teks tersebut berupa bagian
kutipan resensi karena mengungkapkan ...
A. kepengarangan
dan bahasa pengarang dalam novel
B. penilaian
kelemahan novel dan keunggulan novel
C. kepengarangan
dan penilaian novel berupa kelemahan
D. gambaran
isi novel, penilaian novel berupa keunggulan
E. gambaran
isi novel dan bahasa pengarang dalam novel
(Berilah alasan
terhadap opsion jawaban yang dipilih !)
2.
Perhatikan
kutipan esai sastra berikut!
Barangkali
ada benarnya STA menyebut Belenggu sebagai "romantika gelap-gulita",
sebab membaca Belenggu mungkin dapat melemparkan pembaca pada kondisi
kekosongan jiwa yang labil. Namun, realitas Tono, Tini, dan Yah itu memang
beranjak dari realitas faktual, seperti kata Jassin, betapa pun hendak masyarakat
mengelakkannya. Tidak berlaku hanya pada masa-masa itu saja, saya kira,
bersepakat dengan sastrawan Radhar Panca Dahana (2008), saat mengatakan
"roman Belenggu menyodorkan realitas manusia Indonesia yang sebenarnya
dibelenggu oleh dirinya sendiri...kita masih mudah menyaksikannya di sekitar
kita...jiwa yang sempit, pikiran yang kerdil, imajinasi yang pendek", hingga zaman berlari
kencang seperti sekarang ini, belenggu "Tono-Tini-Yah" itu ternyata
masih ada, belum lerai juga bila bukan kian sengit dan kuat keberadaannya,
sebab makin tampak samar dan wajar saja semua belenggu itu kini kita dapati.
Wallahu alam.
(Esai
Wildan Nugraha dari Belenggu Manusia)
Hal yang diungkapkan dalam kutipan esai
tersebut adalah . . .
A.
belenggu
"Tono-Tini-Yah" belum berakhir.
B.
kondisi
kekosongan jiwa yang dialami para tokoh.
C.
Manusia
Indonesia banyak yang terbelenggu kehidupannya.
D.
romantika
gelap gulita yang dialami tokoh Tono, Tini, dan Yah.
E.
kesesuaian
belenggu dalam novel dengan realitas manusia Indonesia.
( Berilah alasan terhadap opsion jawaban
yang dipilih !)
Komentar
Posting Komentar